Sabtu, 15 Februari 2014

GAFATAR 100% Pangan Lokal

Nusantara adalah bangsa Agraris, siapa yang tidak tahu itu?! Bangsa Agraris merupakan bangsa yang sebagian besar penduduknya hidup dari pengelolaan bidang pertanian. Pada tahun 1970-an, Koes Plus, sebuah grup band di Indonesia melalui lagu Nusantara telah menggambarkan kejayaan bangsa ini dalam bidang pertanian. Dengan salah satu liriknya yang berbunyi "...tongkat kayu dan batu menjadi tanaman..." artinya bangsa ini terkenal dengan kesuburan tanahnya, di mana batang singkong sangat mudah tumbuh dan berkembang sebagai tanaman pangan di Nusantara.

Namun, fakta yang menunjukkan bahwa konversi lahan pertanian yang dialihkan kepada kegiatan non pertanian yang cukup tinggi, seharusnya membuat kita menjadi prihatin. Secara data di Kementrian Pertanian, antara tahun 2005-2010 rata-rata penurunan lahan pertanian di Jawa adalah 0.3% pertahun. Sedangkan di luar Jawa bisa mencapai 1.1% pertahun. Tidak hanya itu, pada tahun 2004 jumlah keluarga petani di Indonesia masih dalam kisaran angka 40 juta. Kemudian pada tahun 2013, angka tersebut menyusut menjadi 14 juta. Berdasarkan kondisi tersebut, sangat terlihat adanya indikasi bahwa bangsa ini mulai kehilangan identitasnya sebagai bangsa Agraris.

"Apakah tahu dan tempe termasuk pangan lokal?" Sebuah pertanyaan yang sederhana tetapi cukup sulit untuk dijawab. Hal tersebut dikarenakan para pengrajin tahu dan tempe sebagian besar menggunakan kedelai import dibandingkan kedelai lokal. Kebetulan kakak saya merupakan penjual kedelai di Pemalang dan di lingkungan sana juga banyak ditemukan pengrajin tahu dan tempe. Kalau kondisi ini berlangsung terus menerus, maka bukan suatu yang tidak mungkin kemandirian pangan di Nusantara akan menjadi semakin memprihatinkan.

Kegiatan Pertanian di DPK GAFATAR Kota Yogyakarta
Gerakan Fajar Nusantara (GAFATAR) dalam Rapat Kerja Nasional II yang dilaksanakan pada tanggal 25 Januari 2014, dengan berlokasi di Makasar, telah membahas berbagai alternatif solusi untuk mengatasi permasalahan ini. GAFATAR ingin berpartisipasti untuk meningkatkan Ketahanan dan Kemandirian Pangan Nusantara, salah satunya melalui Gerakan 100% Pangan Lokal yang disertai dengan pengembangan usaha holtikultura di setiap lahan rumah warga GAFATAR dan didukung Gerakan Sepiring Nasi Sehari. Harapannya, setiap warga GAFATAR dapat belajar menjadi seorang petani dan merubah pola pemenuhan karbohidrat, yang pada awalnya terlalu bergantung kepada beras, berubah kepada pangan lokal yang lainnya, seperti Singkong, Jagung, Garut, Sukun, Kentang, Ubi Jalar, dan lain sebagainya.
Pencanangan Program Ketahanan dan Kemandirian Pangan di Depok, Jawa Barat

Kamis, 13 Februari 2014

Hari Berdebu Yogyakarta

Jumat pagi ini suasana Yogyakarta penuh dengan debu (14/2/2014), seperti blog ku ini yang mungkin sudah penuh debu karena sudah lama tidak ku update. Tidak ada yang menyangka letusan Gunung Kelud bisa menyebabkan hujan abu sampai ke daerah istimewa ini. Bahkan menurut informasi dari saudara, hujan abu juga sampai ke daerah Semarang. Meskipun tidak setebal di Yogyakarta. Hujan abu ini mengingatkan ku tentang kondisi Yogyakarta yang sempat mencekam saat meletusnya Gunung Merapi tahun 2010. Kebetulan saat itu, aku sudah ada di Yogyakarta.

Kiriman teman "Hujan Abu" pagi hari di Yogyakarta

Kiriman teman "Hujan Abu" di Tajem, Yogyakarta
Tebalnya "Hujan Abu" di Yogyakarta
Bagi ku dan istri, panorama alam Gunung Kelud mempunyai kesan tersendiri, karena setelah kami menikah, Kediri merupakan lokasi pertama yang kami kunjungi. Dengan sebuah mobil, kami pergi melalui jalan yang cukup terjal, apalagi pada waktu itu jalan masih direnovasi karena baru ada longsor. Sesampainya di anak Gunung Kelud, udara segar yang disertai gerimis menyambut kami. 

Perjalanan ke Gunung Kelud

Anak Gunung Kelud yang masih aktif
Memang Nusantara ini merupakan kawasan yang berada di Cincin Api Pasifik atau Lingkaran Api Fasifik. Sehingga wajar kalau daerah ini sering terkena gempa maupun letusan gunung berapi. Aku hanya bisa berharap, semoga letusan Gunung Kelud kali ini tidak banyak menimbulkan korban nyawa. Selain itu, mari kita menjadi orang-orang yang berfikir, karena Tuhan memberikan tanda-tanda melewati kekuasaanNya yang ada di alam.

Damai Sejahtera Nusantara,
Hidayat EL

Rabu, 20 Maret 2013

Pengertian Budaya

Secara bahasa, istilah budaya berasal dari bahasa sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan jamak dari istilah buddi (budi atau akal). Pengertian ini dapat dipahami, karena budaya didapat dari proses pembelajaran manusia sebagai wujud optimalisasi potensi akal pikirannya untuk beradaptasi dengan lingkungan alam dan juga masyarakat lain yang ada disekitarnya.

Proses pembelajaran itu dapat terlihat, salah satunya dari bentuk rumah adat di kawasan Nusantara yang sebagian besar berbentuk rumah panggung. Desain ini diperoleh berdasarkan proses adaptasi yang cukup panjang terhadap kondisi geografi Nusantara yang masuk dalam kawasan Cincin Api Pasifik, yang rawan mengalami gempa maupun letusan vulkanik.

Pembelajaran ini juga melingkupi seluruh aspek kehidupan manusia yang begitu komplek. Senada dengan pengertian ini, Edward Burnett Taylor menyatakan bahwa budaya melingkupi seluruh aspek kehidupan masyarakat, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan kemampuan-kemampuan lainnya yang didapat sebagai anggota masyarakat.

Sedangkan menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, mendefinisikan budaya sebagai hasil karya, rasa dan cipta masyarakat. Definisi ini juga berkesinambungan dengan definisi budaya dalam bahasa Inggris, yang dikenal dengan istilah culture, yang berasal dari bahasa latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Artinya Segala sesuatu yang diciptakan manusia sebagai makhluk yang berbudaya, baik yang berbentuk sistem nilai maupun benda yang bersifat nyata merupakan representasi dari budaya yang sedang berkembang pada suatu era tertentu.

Salah satu contoh yang menjelaskan tentang definisi ini dapat dilihat melalui perkembangan sastra sebagai hasil dari budaya di bangsa Indonesia. Penanda era tersebut adalah kemunculan tokoh-tokoh sastra baik dari pujangga lama dan baru. Pada waktu itu, masyarakat banyak disuguhi berbagai macam bentuk sastra baik itu hikayat, syair, gurindam, pantun maupun novel yang lebih bersifat membangun motivasi dan menggugah semangat perjuangan.

Dalam arti yang lebih luas, budaya merupakan serangkaian nilai-nilai yang hendak dicapai oleh sekelompok orang, sekaligus sistem hidup (way of life) yang memberikan pedoman arah tujuan hidup manusia. Selanjutnya, budaya akan membentuk sistem perilaku yang khas dan khusus pada pola kehidupan masyarakat.Manusia dan budaya merupakan sesuatu tidak dapat dipisahkan. Tatkala manusia lepas dari kontek budaya, maka akan tercipta kehidupan yang tidak berbudaya. Munculnya korupsi, kolusi dan nepotisme merupakan serangkaian dampak yang tercipta dari perilaku yang tidak berbudaya.

Dalam pengertian lain, kehidupan yang tidak berbudaya merupakan kehidupan yang tidak mengoptimalkan kemampuan akal pikirannya untuk menselaraskan hidupnya terhadap nilai-nilai kebenaran universal yang berlaku di alam. Kehidupan seperti ini membentuk sebuah sistem yang lebih mengandalkan nalurinya untuk bertahan hidup.

Perlu diketahui bahwa budaya bukan dibentuk dari naluri tetapi naluri dapat memberikan pengaruh terhadap budaya. Naluri merupakan pola tingkah laku yang didorong atas upaya pemenuhan kebutuhannya untuk menjaga kelangsungan hidupnya. Dalam kontek ini, naluri dapat diartikan sebagai nafs atau sumber keinginan manusia.

Menurut Abraham Maslow seorang ahli psikologi, berpendapat bahwa kebutuhan manusia dapat dibagi 5 (lima) tingkatan yaitu:

  1. Kebutuhan Fisiologis (Physiological needs) yaitu merupakan kebutuhan Primer, dasar, dan vital. Contohnya : Makanan, pakaian, tempat tinggal, sembuh dr sakit dll)
  2. Kebutuhan akan rasa aman dan perlindungan (Safety and security needs) yaitu kebutuhan ini menyangkut perasaan, seperti bebas dari rasa takut,terlindung dr ancaman dan penyakit, perang, kemiskinan, kelaparan, perlakuan tidak adil dan sebagainya.
  3. Kebutuhan sosial (sosial needs). Kebutuhan ini merupakan kebutuhan akan dicintai, diperhitungkan sebagai pribadi, diakui sebagai anggota kelompok, rasa setia kawan, kerja sama, persahabatan, interaksi dll.
  4. Kebutuhan akan penghargaan (esteem needs). Merupakan kebutuhan akan dihargai kemampuan, kedudukan, jabatan, status, pangkat, dan sebagainya.
  5. Kebutuhan akan aktualisasi diri (self actualization). Merupakan kebutuhan memaksimalkan penggunaan potensi, kemampuan, bakat, kreativitas, ekpresi diri, pretasi dll.

Apabila naluri lebih didahulukan dibandingkan dengan budaya, maka yang terjadi adalah kehidupan antagonistis yang mematikan nilai-nilai kemanusiaan atau dapat disebut juga dengan istilah kehidupan neraka di dunia. Kehidupan ini akan menyeret pribadi-pribadi atau massa untuk berlomba-lomba mencari kepuasan instingnya dengan menghalalkan segala upaya.

Manusia memang harus memenuhi kebutuhannya, namun dalam proses pemenuhannya tidak boleh keluar dari nilai-nilai budaya yang berlaku. Keberadaan budaya tersebut yang akan membedakan antara pola kehidupan manusia dan binatang. Semut yang dikatakan sebagai binatang sosial pun tidak pernah memiliki kebudayaan, hal tersebut dikarenakan kehidupan binatang hanya mengandalkan naluri untuk mempertahankan hidupnya.

Organisasi Kemasyarakatan Gerakan Fajar Nusantara yang salah satunya bergerak di bidang budaya, ingin menanamkan kesadaran ini kepada para kadernya, untuk senantiasa hidup berdasarkan nilai-nilai Ketuhanan sehingga terwujud tatanan kehidupan masyarakat yang damai sejahtera, beradab, berkeadilan dan bermartabat di bawah naungan Tuhan Yang Maha Esa, melalui penyatuan nilai-nilai luhur bangsa serta peningkatan kualitas ilmu dan intelektualitas agar menjadi rahmat bagi seluruh manusia. Memahami budaya dengan benar merupakan jembatan untuk mewujudkan harapan tersebut.



Damai Sejahtera Nusantara!!
Salam